Nggliyengnya Al-Aqsha

Tentara-Terakhir-Yang-Menjadi-Benteng-Masjid-al-Aqsha.jpg

Beberapa hari ini saya mudah merasa pusing. Nggliyeng-nggliyeng[1] gitu rasanya hampir di setiap waktu. Entahlah saya belum periksa juga apa penyebabnya. Apakah karna saudara saya di Al-Aqsha sana yg makin parah kondisinya dalam sepekan terakhir mengakibatkan saya merasakan pusing agar saya mengingat mereka?
Saya kurang paham secara medis, tapi awal kecurigaan saya terhadap pusing ini tersebab saya terlalu banyak pikiran. Apalagi saya terus mengikuti kabar-kabar perpolitikan nasional yg makin carut-marut. Sepertinya tidak juga, karena saya rasa sudah biasa mendengarkan berita nasional yang begitu. Kecurigaan awal ini karena setelah saya bangun tidur biasanya pusingnya hilang.

Namun kecurigaan awal saya ini menjadi terbantahkan ketika saya mulai di hadapan kerjaan depan laptop saya kembali pusing. Saya pun memadamkan laptop dan beralih dari laptop, namun masih terasa pusing. Sudah mencoba pula ganti berbagai posisi yg awalnya duduk jadi tiduran, lanjut berdiri kemudian jalan-jalan tetapi tetap saja nggliyeng-nggliyeng ini terasa. Hingga sholat pun saya masih nggliyeng.

Dan ketika berakhir memilih tidur, bangunnya pun kembali pusing. Saya mencoba banyak minum dan makan namun tak seberapa berpengaruh. Saya pun menduga karna saya kurang bergerak/olahraga saja, jujur saja saya memang lebih banyak menhabiskan waktu untuk duduk dan menghadap layar laptop saya.

Atau mungkin karena tubuh saya yg belum mampu adaptasi di daerah baru ya. Iya, ini masih pekan awal saya tinggal sementara di Bandung. Secara suhu udara di Bandung memang lebih dingin dibanding dengan Semarang apalagi Surabaya. Tapi saya rasa pusing ini bukan karena sekedar homesick.

Ketika jumat pekan lalu mendapati kabar bahwa sholat jumat dilarang di komplek masjid al-aqsha, saya mulai berpikir apakah pusing saya ini ada hubungannya dengan kondisi di sana ya. Ya, bisa jadi memang pusing ini Allah berikan sebagai pengingat dan bentuk simpati terhadap kondisi saudara-saudari di Jerussalem sana. Jauh memang, dan terkesan cocoklogi yg saya sampaikan.

Setidaknya saya ada pusing yang mungkin bisa jadi alasan. Juga doa-doa bagi bebasnya masjid al-aqsha dan bumi syam bagi muslim menjadi terpanjatkan ketika nggliyeng-nggliyeng kembali terasa. Kita tidak tahu seberapa nggliyengnya muslim di bumi syam yg suara tembakan, ledakan dan berbagai intimidasi sudah menjadi keseharian mereka di sana.

Insya Allah akan segera saya periksakan kok kondisi saya ini. Mohon doa bagi kesehatan saya ya. Semoga pusing ini menjadi pengingat yg tak hanya sesaat, meski kesehatan dan kesembuhan lekas saya dapat.

Kabarnya hari ini ada aksi peduli Al-Aqsha. Selamat aksi yang turun aksi dan sholat jumat bersama. Tunjukkan bahwa hak dan kewajiban seorang muslim bila ditunaikan akan menenangkan dan tidak mengganggu.
Jumat Ghadab. Jumuah Mubarak.


[1] nggliyeng: keliyengan, sensasi seakan-akan ingin jatuh

Berita terkait Al-Aqsha:
http://m.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/17/07/19/otbkpt377-polisi-israel-tembak-imam-masjid-alaqsha-usai-shalat

https://www.thenational.ae/world/mena/al-aqsa-mosque-closed-to-worshippers-after-three-palestinians-and-two-israeli-policemen-shot-dead-nearby-1.608861

https://www.islam21c.com/news-views/jumuah-cancelled-at-masjid-al-aqsa/


Jumat 27 Syawal 1438 | 21 Juli 2017
Pembina Wisma Intifadha yang belum bisa ikut aksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s