4 Alasan Lebih Baik Membaca Buku Cetak Daripada Buku Elektronik

Saya masih mencari-cari sampai halaman berapa terakhir saya membaca buku elektronik tentang materi kuliah. Untuk menunjang perkuliahan saya lebih mudah mendapati materi di jurnal dan buku elektronik atau e-book. Tapi berjam-jam di hadapan layar bercahaya terang dan men-scroll “roda tetikus” cukup melelahkan bagi mata dan letih bagi sendi-sendi tubuh saya.

https://www.designboom.com/cms/images/–Z96/ln1.jpg

Orang kerap berasumsi bahwa generasi milenial lebih menyukai format digital ketimbang fisik. Dalam soal buku, anggapan itu tidak benar. Ingenta (dulu bernama Publishing Technology) merilis hasil survei atas 2 ribu orang berusia 18-34 tahun di Amerika Serikat dan Inggris. Sebesar 71 persen atau sekitar 3 dari 4 orang responden mengaku membaca sedikitnya satu buku cetak dan hanya 37 persen yang mengaku membaca buku elektronik sepanjang 2014.

Ya, beberapa hal masih membuat membaca buku elektronik belum senyaman ketika membaca buku cetak. Terlebih, kebiasaan membaca buku tidak bisa disamakan dengan kebiasaan membaca koran. Masyarakat lebih nyaman membaca berita digital, namun tidak dengan membaca buku. Selain itu berikut ada beberapa alasan mengapa membeli buku cetak masih lebih baik daripada ebook.

1. Tercium aroma buku
Ray Bradbury, seorang novelis Amerika Serikat, misalnya, menyebut buku elektronik “bukan buku” dalam wawancaranya dengan Paris Review. “Buku harus beraroma,” katanya. “Jika buku itu baru, baunya sedap sekali. Jika buku itu sudah tua, aromanya malah lebih sedap lagi, seperti Mesir Kuno.” Bagi Bradbury, buku—berbeda dari ‘mesin’—bahkan istimewa dalam hal cara orang memegangnya. “Kau menggenggam buku dengan kedua tanganmu dan berdoa kepadanya,” ujar penerima National Medal of Arts dan penghargaan khusus Hadiah Pulitzer itu.

2. ‎Sensasi sentuhan tangan dengan buku
Dalam menggenggam dan membolak-balik lembaran belum dapat tergantikan dengan buku elektronik. Apalagi dalam melipat, menggulung atau mungkin hingga merobek halaman. Mana mungkin layar komputer atau gadget mobile dilipat atau dirobek kan?

3. ‎Seni dalam memberi pembatas halaman
Tak ada pembatas buku bawaan dan tidak ingin melipat sudut halaman lembar buku, terkadang saya berusaha mendapati benda pipih apapun sekitar kita secepat mungkin sebagai penanda batasan halaman tertentu. Pada beberapa aplikasi pembaca buku elektronik mungkin sudah memungkinkan untuk memberi pembatas halaman (bookmark). Tetapi, seni dalam memberi bookmark buku cetak tidak bisa dikalahkan oleh buku elektronik. Selain memberi pembatas halaman biasa, kita juga dapat membuat sendiri, atau dari berbagai benda sekitar kita seperti kardus, jepit rambut, bahkan sampah bungkus permen yang masih lengket, hehe.

4. ‎Kebebasan berekspresi dalam posisi membaca
Selain duduk dan tiduran, dengan nyamannya sambil menggenggam buku cetak kita bisa bebas berekspresi dalam posisi membaca. Mau buku dikangkangi paha dan betis kita, sambil nungging hingga sikap lilin pun masih bisa. Di depan layar gadget dalam membaca buku elektronik memungkinkan ada beberapa posisi. Duduk, berdiri dan tiduran masih bisa dilakukan dan lebih banyak posisi masih memungkinkan terlebih gadget handheld yang ukurannya nyaman dipegang. Tetapi bagaimana dengan gadget yang lebih besar?

Jadi, sudah yakin kan kalau lebih baik beli buku cetak?

Nah, salah satunya adalah buku kami Dalam Goresan Pena, yang bisa kalian cek di sini.

Kalau buku elektronik sih cari yang gratisan aja, lah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s