Fenomena dan Peran Kita

“Ya Habibal Qolbi~” lagu yang membuat Sabyan Gambus mulai dikenal dengan cover yang dibawakan dengan vokal Khoirunnissa (Dek Nissa).

Sebuah fenomena mengenai selera masyarakat, dari koplo menjadi salawat.

Era digital ini begitu bising.
Sudah terlewat banyak noise. Disebut juga sebagai distruption era.

Apalagi musik. Berawal trending youtube. Lebih luas masuk mengisi ke berbagai ruang publik. Pusat perbelanjaan hingga rumah makan.

Dari lagu Akad Payung Teduh,
Surat Cinta Untuk Starla gubahan Virgoun, bahkan dangdut koplo.
Sayang, Jaran Goyang, Bojo Galak lah, dsb. Semakin naik didukung vokal Via Vallen dan Nella Kharisma.

Namun menjelang Ramadhan di tahun 2018, muncul grup Sabyan Gambus menawarkan tembang salawat. Dan, bulan Ramadhan ini (1439 Hijriah) menjadi puncaknya

Terima kasih Sabyan Gambus dan Dek Nissa.

2 juta lebih subscriber dan total view hingga 400juta dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan. Tembang salawat pun menjadi trending.Viral. Diputar di mana mana suara dek Nissa.

Ini menjadi salah satu indikator.
Hari hari ini, selera masyarakat Indonesia berubah. Kesadaran akan berislam dan berkegiatan yang berkaitan dengan islam makin besar.

Pakaian
Mulai dari sandang. Pengenaan jilbab sebagai identitas muslimah sangat mudah dijumpai di berbagai tempat. Kemeja koko semakin lumrah dikenakan oleh pria dalam kegiatan baik formal maupun non formal

Sosok Idola
Kalau dulu ada tokoh fiksi yang menjadi dambaan wanita mungkin gayanya bad boy.
Lalu hadir Fahri dari Ayat-Ayat Cinta, memberikan standar baru sosok lelaki idaman. Begitu pula dalam karya Habiburrahman El Shirazy yang lain, Ketika Cinta Bertasbih menghadirkan tokoh Azam yang saleh sekali.

Dari pria yang gemar balap liar, suka hura-hura. Menjadi seorang yang memiliki hafalan Qur’an, suara merdu untuk recite membacanya.

Mungkin Muzammil Hasballah menjadi bukti. Tagar hari patah hati nasional di media sosial pada hari pernikahannya tak kalah ramai dengan di hari pernikahan penyanyi wanita Raisa.

Begitu banyak pula kebiasaan islami yang sebelumnya diabaikan bahkan dianggap tabu semakin ke sini semakin digemari.

Majelis taklim dan kajian makin ramai diikuti anak muda. Apalagi ustad semacam influencer bagi kaum muda yang dihadirkan sebagai pembicara. Ust Hanan attaki misalnya, yang kalau sekali berceramah jamaah yang hadir akan membeludak.

Cuma saya menjadi terpikir permasalahannya, saya yang merupakan muslim. Yang mungkin sudah lebih awal memiliki kesadaran berislam. Mungkin juga lebih awal aktif dalam kegiatan dakwah. Namun saya tak menemukan tempat kontribusi saya dalam lompatan kesadaran berislam masyarakat kini.

Lalu apa yang saya perbuat selama ini? Apakah sia-sia?
Entahlah, tapi saya memutuskan untuk tetap bergerak.
Terus beramal dan siap berdinamika. Mendobrak pembatas perjuangan dengan kesungguhan menuju takdir yang lebih baik.
Bagaimana dengan Anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s