Sisa Makanan (Edisi Refleksi Hari Tani)

Pernahkah kita terfikir apa yang terjadi pada sisa makanan jika dikumpulkan?
Misalkan satu rumah makan saja, sisa makanan satu hari di sana dikumpulkan sudah berapa banyak ya?
Apakah kita sempat berpikir perjuangan para petani dari mulai penanaman hingga produknyakita makan?

Orang tua saya, ketika saya masih kecil sering memberi peringatan bahkan hingga menakut-nakuti bila makanan saya tidak saya habiskan. Saya jadi berpikir, terkadang benar juga orang tua saya. Meski terasa berlebihan, namun konsep syukur yang ingin orang tua saya.

“Satu butir nasi di hadapanmu merupakan hasil jerih payah para petani,

A.

Penggalan kalimat tersebut sering terngiang ketika saya makan. Membuat saya lebih sering tak tega bila meninggalkan piring dengan sisa makanan meski sebutir cuilan nasi.

Keep Calm..

Menyapa kembali para pembaca. Setelah sekian lama tidak menulis, kali ini saya ingin berbagi opini saya lewat tulisan ini. Sebenarnya lebih dari itu tulisan ini berisi curahan hati saya.

Ini berawal dari masa-masa berat yang saya alami. Masa masa yang membuat saya mengerti pentingnya ketenangan. Saya mengalami masa itu dan melaluinya dengan tidak mudah.

Kecewa
Saat galau yg cukup menyenangkan saya alami dengan cepat. Sampai pada suatu ketika saya mendapatkan kabar dari teman. Kabar yang menjadikan pikiran saya tidak tenang. Kabar tentang sebuah kenyataan yang sungguh mengecewakan. Kekecewaan yang sangat menyesakkan dan perih. Membuat saya seperti kehilangan semangat menjalani hidup. Saya seperti mengalami keterpurukan.
Belajar jadi susah untuk fokus, makan jadi tidak teratur. Sehingga badan saya lebih kurus dan penyakit silih berganti menyerang.

Sendiri
Sejak saat itu saya mencoba untuk menghadapi masa yang berat itu sendiri. Saya berpikir kalau masalah ini akan mampu saya selesaikan sendiri. Saya selalu berusaha untuk menenangkan diri sendiri.
Sendiri saya menyimpan perih. Sendiri berdiri, menahan sakit hati. Sendiri tidak peduli orang lain.
Namun saya mulai merasa tak sanggup. Tidak sanggup saya menahan perasaan ini sendiri.

You’ll Never Walk Alone

Ba22ch-CcAE0yI4

Tersadarlah saya, kalau saya tidak bisa sendiri menjalani semua ini. Teringat kata-kata yanyg membuat saya lebih calm “You’ll Never Walk Alone”(YNWA). Merupakan anthem dari klub sepakbola profesional asal Inggris “Liverpool”. Kau tak akan pernah berjalan sendiri, memiliki makna bahwa apapun yg kita jalani kita tak akan pernah sendiri.
Dari makna YNWA menyadarkan saya akan kehadiran orang lain yang menemani saya. Iya, saya tidak pernah sendiri.
Masih ada orang tua saya yang sangat peduli dengan saya. Kasih sayang orang tua yang tak akan terganti selalu menemani saya. Juga masih ada adik-adik dan kakak saya yang telah lama bersama saya.
Selain itu ada juga teman-teman yang hebat mendukung saya. Meski tak secara langsung membantu, selalu saja ada teman yang dapat menghibur.
Saya menjadi lebih calm ketika sadar adanya mereka.

Allah Always be with You

Bay74i-CYAAmZwt

Namun ketika sedang benar benar terpuruk saya tidak mampu menyadari kehadiran orang lain di sekitar saya. Saya lebih sering menyendiri. Hingga saya merasakan kesepian.
Namun kesepian itu tidak lama saya rasakan. Karena saya segera menyadari bahwa ada Dzat yang selalu bersama saya. Allah ialah Dzat yang selalu ada bersama saya.
Kesadaran akan kehadiran Allah inilah yang membuat saya selalu calm. Karena memang sesungguhnya Allah itu sangat dekat.

Sehingga tak ada alasan lagi bagi saya untuk terpuruk.
Dan ingat “You’ll Never Walk Alone”, kalau kalian tidak akan pernah sendiri. Sadarilah kalau selalu ada yang bersama kalian di sekitar kalian. Dan apabila kalian merasa tidak ada yang bersama kalian, ingatlah bahwa Allah selalu menyertai kalian di manapun dan kapanpun.
Untuk itu alangkah baiknya jika kita segera bertaubat dan memohon ampun pada Allah. Semoga dengan demikian hati maupun pikiran kita menjadi lebih calm.

KEEP CALM..

Malas.

Belakangan ini, bahkan seringkali saya terserang penyakit. Sehingga mengganggu saya untuk update dan posting di blog. Bukan saya tidak ingin, tetapi ketika saya memulai menulis saya selalu terserang penyakit ini.
Penyakit ini bisa dikatakan sebagai penyakit Malas.
Saya yakin pembaca juga sering terserang penyakit ini. Dengan tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman saya menghadapi malas.

Dalam penulisan hingga terbitnya, tulisan ini mengalami penundaan berkali-kali karena kemalasan saya.

Bukan hanya itu, saya banyak sekali mendapat inspirasi untuk menulis di blog ini. Sungguh banyak yang ingin saya sampaikan. Namun karna saya kurang fokus dan malas, banyak yang belum tersampaikan.

BismillahirRohmanirRohiim…

Langsung saja tentang masalah malas ini, saya buat beberapa rumusan masalah, di antaranya:
-Apa itu malas?
-Mengapa orang bisa malas?
-Apakah penyebab orang menjadi pemalas?
-Mengapa saya jadi seorang pemalas?
-Apa akibat malas?
-Apakah salah bila malas?
-Apakah rasa malas bisa diatasi?
-Bagaimana cara mengatasi rasa malas?
-Apakah dengan malas bisa menjadi sukses?
-Jadi, apakah kita boleh malas?

ada 10 rumusan masalah di atas, yang mungkin cukup mewakili banyak pertanyaan tentang malas. Untuk menjawabnya saya tidak akan merinci jawaban pada tiap rumusan masalah. Saya berikan penjelasan dari berbagai sumber untuk menjawab rumusan di atas:

Malas, merupakan kata sifat yg berarti enggan, tidak ingin melakukan kegiatan. Ketika kita tidak memiliki motivasi maka saat itu kita akan merasa malas. Dari kemalasan dapat diturunkan menjadi menunda nunda pekerjaan.
Malas memiliki banyak penyebab. Penyebab-penyebab malas berasal dari dua sumber; internal atau dari dalam diri dan external yaitu dari luar.
Beberapa penyebab external timbulnya malas antara lain:
> terlalu banyak makan
> terlalu banyak pertimbangan
> berpersepsi negatif
> lingkungan yang tidak mendukung
sekian penyebab external kemalasan, namun rasa malas yang paling kuat berasal dari internal. Jadi yang paling menentukan dirimu menjadi malas atau tidak adalah dari dirimu sendiri.
Sebenarnya menjadi seorang pemalas adalah pilihan. Malas biasanya berawal dari meremehkan atau menganggap enteng suatu pekerjaan. Karena meremehkan kemudian akan menunda-nunda untuk mengerjakannya. Kurangnya motivasi untuk mengerjakan akan membuat semakin enggan untuk mengerjakan. Sehingga menumpuklah tugas yang membabani. Semakin banyak beban yang harus diselesaikan, akan membuat semakin malas dan berat. Seorang pemalas yang merasa mendapat pekerjaan berat dan banyak menumpuk akan berusaha untuk meninggalkan tugasnya tersebut.
Sebagai pemalas saya beberapa kali tidak dapat dipercaya. Hal tersebut disebabkan seringkali karna malas, saya melalaikan tugas dan meninggalkan tanggung jawab. Sehingga saya dianggap tidak mampu mengemban tanggungjawab.
Tentu saja tidak nyaman bila orang di sekitarmu tidak mempercayaimu bahkan menjauhimu. Ini adalah dampak negatif dari kemalasan yang merugikan. Seperti di awal saya menyebut malas dengan penyakit. Pasti tidak enak jika terserang penyakit.
Tetapi malas tidaklah selalu salah. Adakalanya malas akan membantu dan memudahkan. Boleh saja untuk bermalas-malasan seperti:
~ malas berbuat buruk
~ malas melakukan hal sia-sia
~ malas untuk menunda-nunda kebaikan
~ malas mengikuti hawa nafsu yg buruk
~ malas untuk berbuat malas.

Selain kemalasan di atas, kita perlu mengatasi rasa malas yang merugikan. Kunci untuk mengatasi rasa malas ada pada diri kita masing-masing. Kuatkan tekad,pastikan tujuan, dan ikuti lingkungan yang kondisif dan mendukung. Ketiganya insyaa Allah akan membantu kita lebih rajin. Biasanya untuk memperoleh ketiganya kita dapat mengikuti seminar-seminar motivasi, training atau semacamnya.
Namun, sebenarnya untuk meninggalkan malas, penentunya adalah diri sendiri. Dan motivasi yang paling membantu adalah self motivation (motivasi diri), bukan motivasi yang kita dapatkan ketika event tertentu saja. Karena motivasi yang kita dapatkan dari event tertentu, dari seorang motivator terkenal sekalipun hanya bersifat temporar atau sementara.
Jadi mulai sekarang malaslah untuk menjadi pemalas.

semoga bermanfaat.